Girl have been online deception

Penjajahan fisik memang telah lama berlalu. Tetapi efek-efek cultural yang tertinggal dalam mental masyarakat terjajah masih ada hingga sekarang. Dalam hal pandangan terhadap idealism ketampanan, diam-diam banyak perempuan yang memendam hasrat untuk sekedar mendapatkan kekasih atau bahkan menikah dengan lelaki kulit putih. Pemujaan warna kulit dan postur tubuh pria Bule dari dunia Barat dewasa ini telah menjadi inspirasi bagi model penipuan online berkedok ‘romantic dating.’ Tak sedikit perempuan Indonesia yang menjadi sasaran penipuan akun-akun lelaki yang menggunakan identitas cultural kulit putih (Bule) dengan status sosial menggiurkan. Para perempuan yang mabuk sanjungan, lalu diiming-iminngi berbagai hadiah menggiurkan untuk meyakinkan keseriusan cintanya. Akhir cerita selalu mirip, para perempuan yang rata-rata berpendidikan tinggi dengan status mapan ini lalu rela merogoh kocek yang dalam bahkan tak sedikit yang sampai habis-habisan demi mewujudkan impian hidup bersama kekasih bule ini. Artikel ini mencoba menganalisis, bagaimana para perempuan mapan berpendidikan tinggi dan cerdas begitu mudah terjerat oleh tipuan para lelaki yang mengaku bule ini.

Akhir Desember 2013, akun facebook saya dipenuhi puluhan pesan ajakan berteman dari akun para lelaki yang mengaku dari American Army. Hampir semua foto profil menampakkan para lelaki tampan usia 30-50an, kulit putih (bule), berkostum hijau doreng-doreng khas kostum tentara. Pesan berisi kalimat-kalimat sanjungan: “nice pick you have here,’ “you are so cute,” “you look so beautifull,” “I love your image” dan seterusnya. Ternyata beberapa teman juga mengalami hal yang sama, dengan isi pesan yang sama, orang yang sama. Seorang teman mengingatkan saya bahwa sekarang ini banyak sekali penipuan online berkedok cinta (romantic dating) dan sudah banyak menelan korban. Benar saja, ratusan perempuan Asia, tidak hanya Indonesia telah banyak menjadi korban penipuan berkedok asmara ini. Korbannya bukan perempuan-perempuan lugu dan bodoh tetapi mereka adalah perempuan kelas menengah ke atas, mapan dan berpendidikan tinggi.

Seorang blogger sempat mengumpulkan seluruh data-data berkaitan dengan ini. Mulai akun para pemain lengkap dengan data diri palsu, photo-photo orang kulit putih yang dijadikan image diri, para korban dan jumlah kerugiannya. Tak ketinggalan juga beberapa berita penangkapan orang kulit hitam (kebanyakan warga Nigeria) yang dideportasi dari Malaysia karena terbukti melakukan penipuan online bermodus romantic dating. Indonesia juga tak luput dari fenomena ini. Banyak laporan dari perempuan korban penipuan ini, dan korbannya rata-rata perempuan kelas menengah, berpendidikan tinggi dan berprofesi mapan. Ada makna apa di balik semua ini?. Mengapa para perempuan mapan berpendidikan tinggi begitu mudah tergoda oleh rayuan para lelaki asing hanya karena ia memasang photo-photo lelaki tampan berkulit putih dengan rayuan berbahasa Inggris? Tulisan ini akan melacak melaluli pikiran historis kritis untuk mengetahui ideology-ideologi apa yang tersembunyi dalam praktik romantic dating bermodus lelaki Kulit Putih ini.

Secara biologis manusia perempuan dan laki-laki memang memiliki fungsi biologis yang berbeda. Perbedaan itu mestinya tidak berarti hirarkis dengan konsekuensi stigma bahwa yang satu lalu dianggap lebih tinggi dari yang lain. Namun sepanjang sejarah fakta biologis ini telah berulangkali diredefinisikan secara cultural menjadi seolah-olah membawa konsekuensi-konsekuensi pada kontras perilaku di antara kedua jenis kelamin itu. Perempuanlah terutama yang mengalami pengaturan terus-menerus melalui pendefinisian-pendefinisian tentang ‘bagaimana seharusnya menjadi perempuan.’ Perempuan memiliki sejarah panjang tentang beragam diskriminasi cultural dibawah dominasi laki-laki. Mulai dari keharusan memiliki keahlian mengurusi ranah domestic (masak, merawat anak, meladeni suami), hingga larangan mendapatkan kenikmatan seperti pada tradisi di Negara-negara Arab. Tetapi saat ini, penjara domestic yang mengurung perempuan dengan peran rumahan sudah mulai berlalu. Kaum perempuan kini semakin mudah memasuki peran-peran public yang dulunya digambarkan hanya sebagai dunia laki-laki, tentu dengan banyak sekali catatan kaki.

A. Seksualitas dan Kecantikan: Penjara Baru Perempuan Mapan

Banyak anggapan bahwa setelah terbebas dari ‘penjara domestic,’ perempuan akan semakin berdaya dan tidak mudah tersubordinasi oleh dunia lelaki. Semakin perempuan berpendidikan tinggi dan berstatus mapan, maka perempuan diandaikan akan memiliki sensibilitas yang tinggi terhadap kemungkinan model-model penindasan patriarkhi. Namun siapa sangka, ‘terbebas’ dari penjara domestic kaum perempuan malah disambut penjara lain yang lebih memilukan: penjara intimitas, seksualitas dan kecantikan. Ketiganya menempatkan perempuan sebagai ‘obyek yang dipandang dan dinikmati,’ bukan ‘subyek yang memandang dan menikmati.’ Wacana patriarkhis ini menjerat perempuan ke dalam perilaku-perilaku yang tak kalah merugikan dibanding dengan wacana domestifikasi perempuan. Pada kutub kecantikan, tak terhitung perempuan mengalami kerusakan tubuh bahkan kematian demi mengejar kategori-kategori kecantikan. Pada kutub intimitas dan atau seksualitas, perempuan menjadi korban intimitas dalam berbagai modus seperti pemerkosaan, pelecehan seksual, penghianatan dan penipuan berkedok asmara. Fenomena-fenomena ini bukan semata-mata opresi wacana patriarkhi konvensional, tetapi juga berjalin kelindan dengan wacana-wacana poskolonialitas khas fenomena bekas gara-negara jajahan dan juga dominasi model komunikasi bermedia canggih. Keadaan menjadi rumit rumit terutama karena bukan kategori diskriminasi fisik yang represif, tetapi diskriminasi yang menempatkan perempuan seolah-olah pada posisi terhormat, disanjung dan diilindungi.

Intimitas mestinya adalah perkara psikologis. Sedangkan seksualitas adalah perkara biologis. Mestinya keduanya tidak berjenis kelamin. Keduanya adalah aspek manusiawi dari sisi kehidupan spesies manusia, laki-laki ataupun perempuan. Namun sejarah mencatat bagaimana wacana dominan perempuan dari jaman ke jaman mengalami tingkat kerumitan yang jauh lebih tinggi dibanding laki-laki dalam konteks intimitas dan seksualitas. Perempuan’wajib’ mempersiapkan dengan sempurna tubuhnya, baik kebersihan, kewangian dan keelokan riasannya; agar tampak sempurna dalam tatapan laki-laki. Pada saat yang sama, perempuan juga digambarkan sebagai mahluk yang lemah, senang dirayu, dimanja, disanjung dan dilindungi. Tak sedikit tradisi-tradisi obyektivikasi perempuan dalam ranah budaya seksualitas itu masih terlacak dan bahkan terus-menerus direproduksi hinngga sekarang.

Dalam novel ‘Gadis Pantai’ karya Pramoedya Ananta Toer, menggambarkan dengan detail bagaimana ‘persiapan’ perempuan untuk ‘melayani laki-laki. Walaupun seoranng perempuan telah terseleksi menjadi selir seorang penguasa local karena kecantikannya yang terkenal, namun ia tetap diwajibkan menempuh prosedur rumit untuk memaksimalkan pesonanya di hadapan si penguasa local. Tubuh dibersihkan melampaui cara para perempuan bisasa membersihkan diri (mandi rempah, ratus) dan diriasi menurut tata cara yang sangat rahasia oleh para abdi dalem. Semuanya harus di tempuh demi tatapan sesaat laki-laki yang hanya menjadikannya pemuas nafsu belaka. Sementara laki-laki yang diwacanakan menjadi penguasa seksualitas perempuan itu bebas kapanpun ingin bermesraan dengan sang perempuan, tanpa harus menempuh persiapan yang rumit-rumit. Dengan kelihaian tutur bahasa yang penuh romansa, laki-laki bisa dengan leluasa menahlukkan seksualitas perempuan atas nama cinta.

Obyektivikasi perempuan sebagai mahluk yang senang disanjung, dimanja, dirayu, dinikmati dan dilindungi ini telah direproduksi dalam berbagai artefak budaya modern. Mulai karya sastra seperti puisi dan novel; hingga dalam budaya populer seperti sinetron, film, video klip hingga lirik-lirik lagu. Semuanya seolah mengamini bahwa adalah alamiah perempuan dalam hal intimitas ataupun seksualitas, perempuanlah pihak yang seharsnya disanjung, dipuji-puji dan dilindungi. Dalam konteks intimitas ini, obyektivikasi perempuan dipresentasikan dalam bahasa-bahasa puitis nan indah, mengandaikan perempuan sebagai mahluk sempurna tanpa cela. Beragam koleksi metaphor cinta bahkan menjadi methaphor abadi sepanjang masa untuk menggambarkan sanjungan laki-laki (subyek yang memandang) kepada perempuan (obyek yang dipandang). “Matamu sebening embun,’ ‘Wajahmu seindah bulan,’ ‘Kulitmu selembut sutra,’ dan masih banyak deretan metaphora cinta patriarkhis yang menjadi senjata untuk menahlukkan perempuan.

Obyektivikasi seksualitas perempuan ini mendominasi wacana seksualitas perempuan sepanjang sejarah dengan berbagai cara dan dilanggenngkan oleh lembaga-lembaga sosial: negara, agama, sekolah, hingga keluarga. Akhirnya stereotip perempuan sebagai obyek seksual, yang dipandang dan dinikmati laki-laki menjadi ‘pengetahuan natural.’ Seakan-akan alamiah (ya begitulah adanya), laki-laki seakan natural sebagai subyek seksual yang memandang dan menikmati. Dan perempuan seakan-akan ditakdirkan menjadi obyek seksual yang dipandang dan dinikmati. ‘Pengetahuan natural’ ini membentuk pola perilaku tentang bagaimana seharusnya menjadi perempuan secara seksual. Perempuan dikeroyok oleh segala kategori yang membuatnya menjadi menyenangkan untuk ‘dipandang dan dinikmati. Menjadi seorang perempuan harus tampil berperilaku dan semenarik mungkin agar ia menjadi memenangkan arena pertempuran menggapai simpati laki-laki. Mulai dari tentang ‘apa itu yang cantik’ dan ‘perilaku apa yang menarik, terhormat dan seksual’ menjadi kategori yang dikejar dan membuat menjadi perempuan hidup lebih rumit dari lelaki.

Sanjungan atau puja-puji dari laki-laki telah lama menjadi bagian dari ‘pengetahuan natural’ tentang puncak tangga prestasi perempuan di hadapan laki-laki yang dikejar dan diperebutkan kaum perempuan. Demi prestasi sanjungan ini perempuan rela menderita, melakoni sejumlah ritual rumit seperti perawatan tubuh, berdandan hingga oprasi plastic bagi yang berduit. Sinngkatnya, sanjungan dan puja-puji laki-laki apalagi yang dianggap ganteng dan kaya. Telah lama mejadi bagian dari ranah pertempuran sensualitas perempuan. Pada saat yang sama, tak sedikit perempuan yang menjadi korban penipuan harta benda hingga penganiayaan fisik yang diawali dengan ketidakkritisan terhadap sanjungan laki-laki.

B. Karakter Mental Inlander Menjadi Inspirasi Penipuan Berkedok Asmara

Keadaan ini bertambah parah dengan masih kentalnya ‘mental inlander’ yang mendominasi perilaku cultural perempuan dari Negara-negara bekas jajahan. Mental Inlander ditandai dengan ‘mental melihat ke Barat,’ menjadikan Negara-negara bekas penjajah (Eropa dan Amerika) sebaga kiblat peradaban atau pusat kemajuan. Mental semacam ini sebenarnya sudah ada sejak jaman penjajahan (Yulianto, 1999: ). Dimulai dari babak panjang represi penjajah terhadap kaum pribumi yang biasa memperlakukan warga pribumi sebagai budak yang hina. Bukan hanya dijadikan warga kelas bawahan di tanahnya sendiri (di bawah Etnis China), warga pribumi juga sering dimaki dengan kata-kata yang melecehkan. ‘Tolol,’’bodoh,’ ‘kuno,’ ‘jelek,’ ‘dungu; hanya bagian kecil dari sebutan yang diberikan menyebut orang-orang ’inlander’ (pribumi). Efek dari penindasan cultural yang panjanng ini adalah munculnya ‘pengetahuan natural’ tentang kemajuan bangsa Barat. Seakan-akan memang natural bahwa bangsa jajahan (baca: Timur, Indonesia) adalah bangsa biadab, kuno, bodoh dst.

Penjajahan fisik memang telah lama berlalu, namun efek-efek cultural dari penindasan ini masih terus berlangsung dan direproduksi hingga saat ini. Mental berkiblat ke Barat menggerogoti alam pikir masyarakat Negara-negara jajahan dalam berbagai bentuk. Dalam hal pemerintahan, sejak Orba hingga sekarang adalah hal yang seolah lumrah jika segala studi perbandingan selalu menuju negri-negri Eropa atau Amerika. Dalam dunia hiburan, artis Bule walaupun Cuma tampil sekilas dengan selalu menjadi pusat perhatian. Artis-artis berwajah blasteran Kulit Putih mendominasi ranah hiburan, baik di film, sinetron, iklan hingga . Pemutih menjadi menu utama produk industry kecantikan. Dalam hal asmara pun, lelaki atau perempuan Kulit Putih menempati posisi puncak yang menjadi rebutan. Tak sedikit perempuan yang begitu bangga hanya sekedar bisa kenalan atau berfoto bareng dengan lelaki bule. Apalagi kalau sampai bisa menjadi kekasih atau menikah.

Fenomena penipuan berkedok romantic dating dari para lelaki berkulit putih ini adalah sebuah contoh pemanfaat kulturan mental inlander yang masih kental. Para pelaku tampaknya sangat paham kultur kolektif alam bawah sadar perempuan-perempuan di negara-negara bekas jajahan ini. Dengan kecanggihan teknologi media, ia bisa merekayasa identitas mulai dari photo, tempat tinggal, tempat kerja dst. Potret diri para lelaki bule ini tampak muda, ganteng, klaim domisili di kota-kota metropolis dunia (London, New York, dst),dan tak lupa pula klaim berstatus pekerjaan yang bergengsi seperti tentara berpangkat jendral, pengusaha, insinyur pertambanngan, CEO perusahaan raksasa, hingga keluarga sosialita dunia. Maka wajah-wajah para model kulit putih tak berdosa, menghiasi situs-situs romantic dating. Foto-foto yang konon dicomot dari situs milik agen-agen model Barat ini dijadikan photo diri (Profil) para penipu yang ternyata adalah Orang-orang kulit hitam. Tetapi dalam perkembangannya, bukan hanya photo para model yang digunakan, mereka juga menggunakan foto-foto orang biasa dari bangsa kulit putih untuk mengelabui para korban. Para penipu ini tampaknya paham benar akan konsep ‘lelaki idaman’ kolektif para perempuan dari bekas Negara-negara jajahan: Bule (tinggi, putih, mancung) dengan pekerjaan mapan.

Banyaknya korban penipuan romantic dating berkedok pria bule mapan ini adalah cermin masih mengakarnya status inferior perempuan. Di satu sisi perempuan seolah semakin merdeka untuk berkiprah di ranah public, menduduki posisi-posisi karier yang setara dengan laki-laki. Namun pada kutub seksualitas atau intimitas, perempuan masih ditelikung mitos obyektivikasi tentang siapa seharusnya obyek yang harus dipandang. Dengan penerimaan mitos obyektivikasi ini, perempuan dikejar tuntutan pertarngan untuk tampil sempurna untuk menyenangkan hati laki-laki. Pujian, sanjungan, dicintai atau bahkan dipinang laki-laki yang dianggap sempurna adalah puncak kemenanngan perempuan dalam pertempuran pesona intimitas ini. Hal ini berlaku bukan hanya perempuan yang dikonotasikan sebagai bodoh, tak berpendidikan dan miskin, tetapi juga perempuan-perempuan berpendidikan tinggi, cerdas dan mapan. Penerimaan mitos sebagai obyek yang harus sedap dipandang berjalin kelindan dengan kultur kolektif bawah sadar yang sangat melanggengkan kesempurnaan bentuk fisik banngsa penjajah kullit putih ini, menjadi rentan terhadap penipuan-penipuan seperti ini.

Romantic dating hanyalah salah satu dari sekian bayak kedok atau modus yang memanfaatkan kelemaha posisi perempuan ini. Ada beragam kedok lain di dunia nyata yang kurang yang banyak memakan korban perempuan dari yang paling bodoh hingga yang paling pintar, yang paling miskin hingga perempuan kaya raya. Penyebabnya hanya karena tidak peka terhadap bahaya puja-puji yang menggiurkan. Modus-modus penipuan seperti ini melenakan dan sangat sulit dideteksi dini, karena pesonanya yang melenakan. Para perempuan seakan ditempatkan di posisi terhormat, jauh dari kesan inferior. Dan tepat pada diskriminasi yang melenakan ini, ada banyak bahaya mengintai perempuan. Karena para penipu dengan modus ini adalah para pria cerdas yang sadar benar akan penjara pemujaan tipe lelaki ideal yang digandrungi para perempuan bekas Negara jajahan. Menjadi peka pada rayuan yang tidak masuk akal, tidak sembarangan memberikan nomor telepon dan melakukan transaksi keuangan pada laki-laki yang hanya dikenal di dunia maya barangkali bisa menjadi pencegahan awal dari penipuan seperti ini.

 

Penulis :

Dr. Sri Murlianti, M.Si

Penulis adalah Dosen di Program Studi Pembangunan Sosial FISIP UNMUL.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>