IMG_7422

Berdiri September tahun lalu, Asosiasi Pembangunan Sosial Indonesia (APSI) menghimpun para praktisi dan penggiat disiplin ilmu Social Development atau Pembangunan Sosial (dahulu dikenal sebagai Sosiatri) untuk berpikir, berdiskusi bersama, dan menyuarakan hasilnya. Para anggotanya berasal dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia, termasuk Universitas Mulawarman (Unmul) di Samarinda.

Bukan sekadar menjadi ajang menumpahkan kedalaman ilmu Sosiologi Terapan dan pemikiran, APSI berusaha untuk membantu pemerintah menghadapi sejumlah masalah nasional yang mendasar. Dengan kata lain, keilmuan yang mereka miliki tidak melulu bergulir dan semarak dalam lingkungan kampus, juga dalam kelas-kelas perkuliahan semata, melainkan bisa berdampak konkret dalam kehidupan masyarakat. Salah satunya ialah mengejar ketertinggalan pembangunan sosial, yang dinilai masih terbelakang dibanding pembangunan ekonomi, dan perhatian terhadap lingkungan. Padahal ketiganya saling terkait; ketika ekonomi mengalami pertumbuhan pesat, memengaruhi gaya hidup dan perilaku sosial masyarakat, sedangkan lingkungan mengalami dampak berupa kerusakan. Kurang lebih seperti itu.

Hal ini yang kembali dikemukakan dalam Kongres I APSI, di Ruang Mancong Hotel Mesra Internasional, Jalan Pahlawan, Rabu (3/6) pagi. Dengan tema utama “Kerja Sama Pemerintah, Korporasi, dan Orsos: Pengembangan Sosial-Ekonomi Masyarakat Miskin dan Rentan.” Secara sederhana, kongres pertama ini benar-benar mengangkat isu mendasar tentang subjek-subjek Pembangunan Sosial, yaitu pemerintah, pihak swasta, dan Non-Governmental Organization (NGO) maupun organisasi sejenis. Boleh dibilang, kongres ini merupakan titik sejarah baru Pembangunan Sosial nasional yang berlangsung di Samarinda.

“Hanya ada dua isu pokok (dalam bahasan) kali ini. Kemiskinan dan kerentanan, serta bagaimana menyikapinya. Itu saja,” kata penggagas sekaligus Ketua APSI, Prof Dr Susetiawan SU dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Jogjakarta, dalam sesi keynote speech.

Terlepas dari pokok-pokok bahasan dan agenda Kongres I APSI, suasana akademis sangat terasa dalam ruang kongres. Sejumlah perspektif dalam disiplin ilmu Pembangunan Sosial, mampu digunakan untuk membedah dan mengamati kondisi terkini bangsa ini. Menghasilkan opini-opini menarik, yang bukan mustahil dapat diterapkan di masyarakat.